Bibi Ahmad Chahyanto SGz
Coconute GM46

Eksotisme Ragam Tanaman Obat Tradisional Nusantara : Mengenal Kembali Tanaman Obat Yang Sudah Jarang Ditemukan di Pekarangan Rumah (Studi Kasus di Desa Sukaramai, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara)

Agustus 22nd 2014 in Uncategorized

Dies Natalis PSB 2014

    Indonesia merupakan Negara dengan iklim tropis yang memiliki keanekaragaman hayati. Indonesia memiliki hampir 3000 spesies tanaman yang tersebar di seluruh pulau-pulau Indonesia. Sekitar 9600 spesies tanaman memiliki khasiat sebagai obat, sekitar 7000 spesies yang dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupun industri dan yang didaftarkan ke BPOM RI hanya 283 tanaman (Eisai Indonesia 1986, Erdelen et al. 1999, Pramono 2002, Dewoto 2007).

    Obat tradisional merupakan sebutan bagi bahan atau ramuan bahan yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran bahan-bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan sebagai pengalaman (Depkes RI 2000). Penggunaan obat tradisional telah dilakukan oleh masyarakat Indonesia sejak ribuan tahun silam. Gambar-gambar pada pada relief Candi Borobudur di Jawa Tengah dan resep-resep tanaman obat yang tertulis pada daun lontar di Bali tahun 991 – 1016 menjadi bukti bahwa obat tradisional telah lama dikenal dan dimanfaatkan di Indonesia (Pringgoutomo 2007).
    Namun, saat ini semakin sedikit masyarakat yang memanfaatkan obat tradisional. Bahkan saat ini sudah sangat jarang ditemukan adanya pekarangan tanaman obat di rumah-rumah masyarakat. Banyaknya jenis dan jumlah obat moderen dalam bentuk sirup, kapsul, pil dan sebagainya yang lebih praktis dan banyak ditemukan di pasaran membuat obat tradisional kurang dikenal dan digunakan lagi. Padahal, obat tradisional secara alami memiliki khasiat yang amat beragam bagi tubuh manusia. Berikut ini akan dijabarkan beberapa jenis tanaman obat di Indonesia yang sudah jarang ditemukan dipekarangan rumah.

    1. Bangle (Zingiber purpureum Roxb.)
    Tanaman ini termasuk salah satu tanaman obat yang cukup mudah untuk tumbuh. Dulu cukup banyak kita temukan tanaman ini di pekarangan rumah. Tapi kini semakin jarang kita menemukan tanaman ini. Menurut Padmasari et al. (2013), rimpang bangle mengandung minyak atsiri (sineol, pinen), damar, pati, tannin, saponin, flavonoid, triterpenoid, steroid, alkaloid, dan glikosida. Tanaman ini memiliki bau yang khas.
    Bangle memiliki khasiat sebagai penurun panas (antipiretik), peluruh kentut (karminatif), peluruh dahak (ekspektoran), pembersih darah, pencahar (laksatif), antioksidan,dan obat cacing (vermifuge) (Mursito 2007; Dalimartha 2009; Tim TPC 2012; Alam et al. 2012; ). Selain itu, bagi masyarakat suku jawa yang menetap di Sumatera Utara tanaman ini memiliki nilai budaya. Menurut kepercayaan masyarakat, bayi harus diberi parutan bangle pada dahinya setiap menjelang sore tiba agar terhindar dari makhluk halus.

    2. Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus Bent.)
    Kumis kucing dulu sering dijadikan sebagai tanaman pagar rumah. Bunganya yang khas berwarna putih atau merah muda dan serta bentuknya yang unik membuat para ibu-ibu menyukai tanaman ini. Sejalan dengan pertambahan tahun, tanaman ini pun dimusnahkan. Hal ini karena ketidaktahuan masyarakat dalam memanfaatkan tanaman ini.
    Seluruh bagian tanaman bunga tanaman kumis kucing memiliki khasiat sebagai obat. Daun kumis kucing mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, tanin dan polifenol. Tanaman kumis kucing memiliki khasiat sebagai antiinflamasi dan diuretik. Daun kumis kucing dapat digunakan sebagai peluruh air seni dan untuk mengobati penyakit batu ginjal, diabetes, dan encok (Ristek Indonesia 2002, Kurdi 2010).

    3. Daun Sirih (Piperbetie L.)
    Sirih merupakan salah satu tanaman merambat yang dulu sering ditemui di tembok-tembok pagar rumah. Karena dianggap mengganggu, tanaman ini sekarang sudah jarang ditemukan. Padahal tanaman ini memiliki khasiat yang banyak. Menurut masyarakat setempat, rebusan daun sirih jika diminum secara rutin dapat mengurangi bau badan, mengunyah daun sirih merupakan salah satu budaya yang dulu sering dilakukan masyarakat sekitar dan terbukti dapat menguatkan gigi dan gusi, dapat mengurangi atau mengobati hidung berdarah (mimisan), dan sebagainya. Menurut Kurdi (2010), daun sirih mengandung banyak zat kimia yakni eugenol, karvakral, sineol, karoten, tannin, pati, dan lain sebagainya. Khasiat daun sirih menurut Kurdi (2010) adalah sebagai astrigen, ekspektoran, hemostatik dan antiseptik.

    4. Ekor Kucing (Acalypha hispida Burm. F)
    Dahulu tanaman ini banyak di pekarangan rumah masyarakat Desa Sukaramai, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara (Labura-Sumut). Namun, saat ini sudah tidak pernah lagi Saya menemukan tanaman ini. Masyarakat menganggap tanaman ini sebagai tanaman hiasan (bunga). Anak-anak termasuk Saya sendiri sewaktu kecil sering menggunakan ekor kucing sebagai bahan pengganti cabai dalam permainan masak-masakan. Ternyata tanaman ini memiliki fungsi sebagai obat herbal. Menurut Kurdi (2010), dalam farmakologi cina ekor kucing memiliki rasa manis, sejuk, kelat, dan dapat menghentikan pendarahan serta meluruhkan air seni. Zat kimia yang terkandung dalam tanaman ini adalah acalyphin, flavonoid, saponin, dan tannin.

    5. Ganyong (Canna edulis)
    Ganyong banyak tumbuh di daerah yang lembab seperti dipinggiran got atau parit di Desa Sukaramai, Labura-Sumut. Sama seperti halnya ekor kucing (Acalypha hispida Burm. F), tanaman ini juga memiliki bunga yang indah dan berwarna-warni sehingga masyarakat menganggap tanaman ini hanya sebagai tanaman bunga saja. Jika dibandingkan tanaman ekor kucing, ganyong lebih mudah untuk tumbuh sehingga seringkali menjadi semak belukar jika dibiarkan terus tumbuh. Saat ini tanaman ganyong sudah jarang ditemukan di Desa Sukaramai. Karena pertumbuhannya yang sulit terkendali, banyak masyarakat yang memusnahkan tanaman ini. Menurut Kurdi (2010), umbi ganyong mengandung pati, zat besi, kalsium dan garam fosfat. Ganyong berkhasiat sebagai antifiretik dan diuretik.

    Kelima tanaman obat di atas hanyalah sebagian kecil contoh saja tanaman obat yang sudah terlupakan dan jarang ditemukan di Desa Sukaramai Labura-Sumut. Untuk itu, perlu dilakukan sosialisasi dan pengenalan tanaman obat serta khasiatnya pada masyarakat untuk melestarikan budaya bangsa serta menjaga plasma nutfah nusantara.

    Alam G, Mufidah, Massi N, Kurnia FRT, Rahim A, Usmar. 2012. Skrining komponen kimia dan uji aktivitas mukolitik ekstrak rimpang bangle (Zingiber purpureum Roxb.) terhadap mukosa usus sapi secara in vitro. Majalah Farmasi dan Farmakologi. 16 (3) : 123 – 126.
    [Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Pedoman Pelaksanaan Uji Klinik. Jakarta (ID) : Direktorat pengawasan obat tradisional.
    Dalimartha S. 2009. Atlas Tumbuhan Indonesia Jilid 6. Jakarta (ID) : Pustaka Bunda.
    Eisai Indonesia PT. 1986. Medicinal Herb Index in Indonesia. Jakarta (ID) : PT Eisai Indonesia.
    Erdelen WR, Adimihardja K, Moesdarsono H, Sidik. 1999. Biodiversity traditional medicine and the sustainable use of indigenous medicinal plants in Indonesia. Indigenous knowledge and development monitor. 7 (3) : 3 – 6.
    Kurdi A. 2010. Tanaman Herbal Indonesia : Cara Mengolah dan Manfaatnya Bagi Kesehatan.
    Mursito B. 2007. Ramuan Tradisional untuk Pelangsing Tubuh. Jakarta (ID) : Penebar Swadaya.
    Padmasari PD. Astuti KW, Warditiani NK. 2013. Skrining fitokimia ekstrak etanol 70% rimpang bangle (Zingiber purpureum Roxb. Jurnal Farmasi Udayana. 1 – 6.
    Pramono E. 2002. The commercial use of traditional knowledge and medicinal plants in Indonesia. Submitted for multi-stakeholder dialoque on trade, intellectual property and biological resources in Asia.
    Pringgoutomo A. 2007. Riwayat Perkembangan Pengobatan dengan Tanaman Obat di Dunia Timur dan Barat. Buku Ajar Kursus Herbal Dasar untuk Dokter. Jakarta (ID) : Balai Penerbit FKUI.
    [Ristek Indonesia] Riset dan Teknologi Indonesia. 2002. Inventaris Tanaman Obat Jilid 1-5 Seri RISTEK. Jakarta (ID) : Kementrian Riset dan Teknologi.
    Tim TPC (Tim Tropical Plant Curriculum). 2012. Modul Tanaman Obat Herba Berakar Rimpang. Bogor (ID) : SEAFAST Center IPB.


Comments are closed.

Bangle yang memiliki nama latin Zingiber purpureum Roxb. merupakan salah satu tanaman berakar rimpang yang dapat digunakan dalam pengobatan tradisional. Tanaman ini memiliki banyak sebutan, di Jawa Barat tanaman ini dikenal sebagai “pangle”, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal dengan “bengle”, “banggele” di Bali, “kunyit bolai, bungle, mungle, bengle, banglai, atau kunit bolai” di […]

Previous Entry

Dear Mahasiswa Peserta Praktikum Pengantar Biokimia Gizi Semester Ganjil 2014/2015 Khususnya Kelas B1 dan B3.

Berikut Pembagian Tugas dalam Praktikum dan Teknis Pelaksanaan Praktikum Rabu, 1 Oktober 2014 dan Kamis, 2 Oktober 2014.

1. Pengambilan darah dan Isolasi Serum tidak perlu dilakukan. Serum darah sampel disediakan oleh Asisten Praktikum dan Laboran. Jadi TIDAK DIPERLUKAN RESPONDEN dari Mahasiswa.
2. Pre Lab […]

Next Entry

Komentar Terakhir
Kategori