Bibi Ahmad Chahyanto SGz
Coconute GM46

Bangle : Antara Kepercayaan dan Fakta Ilmiah

Agustus 21st 2014 in Uncategorized

Dies Natalis PSB 2014

Bangle yang memiliki nama latin Zingiber purpureum Roxb. merupakan salah satu tanaman berakar rimpang yang dapat digunakan dalam pengobatan tradisional. Tanaman ini memiliki banyak sebutan, di Jawa Barat tanaman ini dikenal sebagai “pangle”, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal dengan “bengle”, “banggele” di Bali, “kunyit bolai, bungle, mungle, bengle, banglai, atau kunit bolai” di Sumatera. Masyarakat suku jawa yang lama menetap di Sumatera Utara menyebut bangle dengan sebutan “bungle”.

Bangle memiliki rasa yang agak pahit, agak pedas, dan ciri yang sangat khas dari tanaman obat ini adalah bau/aromanya yang cukup menyengat. Cukup banyak yang menyukai aroma tanaman bangle, terutaman ibu-ibu. Bangle memiliki khasiat sebagai penurun panas (antipiretik), peluruh kentut (karminatif), peluruh dahak (ekspektoran), pembersih darah, pencahar (laksatif), antioksidan,dan obat cacing (vermifuge) (Mursito 2007; Dalimartha 2009; Tim TPC 2012; Alam et al. 2012; ).

Pada masyarakat suku jawa yang menetap di Sumatera Utara, selain sebagai tanaman obat bangle juga memiliki nilai budaya yang sangat kuat. Nilai budaya yang diterapkan turun menurun hingga saat ini yaitu penggunaan bangle pada bayi yang baru lahir. Ibu-ibu suku jawa yang menetap di Sumatera Utara selalu mengoleskan gerusan bangle pada dahi bayi yang baru lahir pada saat sore hari, biasanya setelah bayi dimandikan sore hari dan menjelang maghrib tiba. Menurut penuturan ibu suku jawa yang menetap di Sumatera Utara, penggunaan bangle ini bertujuan agar bayi terhindar dari gangguan buruk seperti makhluk halus/makhluk astral. Mereka meyakini bahwa menjelang sore banyak makhluk halus yang berkeliaran dan dapat membahayakan bayi mereka sehingga mereka mengoleskan gerusan bangle yang memiliki bau khas yang tidak disukai makhluk halus dengan harapan hal yang dilakukan ini dapat melindungi bayi mereka.
Nilai-nilai budaya di atas sangat dipercaya oleh masyarakat terutama masyarakat suku jawa yang menetap di Sumatera Utara. Namun, secara ilmiah tentu saja kebiasaan tersebut sulit dipercaya. Sama seperti tanaman rimpang obat tradisional lainnya, bangle juga memiliki banyak kandungan zat kimia. Rimpang bangle mengandung minyak atsiri (sineol, pinen), damar, pati, tannin, saponin, flavonoid, triterpenoid, steroid, alkaloid, dan glikosida (Padmasari et al. 2013).

Menurut Guyton (1997) dan Chay et al. (2008) bangle mengandung senyawa kimia yang berkhasiat antiinflamasi dan antiedema seperti (E)-1-(3,4-dimethoxyphenyl)-butena dan (E)-1-(3,4-dimethoxyphenyl)-butadiena (DMPBD). Alam et al. (2012) membuktikan ekstrak rimpang bangle memiliki efek mukolitik (berfungsi sebagai obat yang dapat mengencerkan sekret saluran napas) sehingga mengurangi kekentalan dahak dan dapat digunakan sebagai obat batuk tradisional.
Dewasa ini, tanaman bangle di Indonesia semakin kurang familiar (diketahui banyak orang) dan dikesampingkan oleh masyarakat. Selain memiliki khasiat sebagai obat tradisional, tanaman bangle juga dapat digunakan sebagai aroma-terapi, bumbu dapur, insektisida alami dan juga bahan campuran untuk parfum mawar. Teknologi-tekologi tersebut telah banyak di kembangkan di Negara-negara yang teknologi pertaniannya sudah maju seperti Banglades, India, dan Thailand. Aroma yang khas dari tanaman bangle berasal dari minyak atsiri yang terkandung di dalamnya. Menurut Rahardjo et al. (2004), kandungan minyak atsiri pada bangle dalam kondisi bobot kering adalah 1.12 – 3.35%.
Untuk itu perlu dilakukan sosialisai khasiat bangle kepada masyarakat khususnya masyarakat suku jawa yang menetap di Sumatera Utara. Selain itu, perlu ditingkatkan produktivitas bangle dan pengenalan bangle pada remaja agar mereka lebih mengenal obat tradisional serta khasiatnya.

Alam G, Mufidah, Massi N, Kurnia FRT, Rahim A, Usmar. 2012. Skrining komponen kimia dan uji aktivitas mukolitik ekstrak rimpang bangle (Zingiber purpureum Roxb.) terhadap mukosa usus sapi secara in vitro. Majalah Farmasi dan Farmakologi. 16 (3) : 123 – 126.
Chay AO, Chotjumlong P, Kongtawerlet P, Krisnaprakornit S. 2008. Zingiber cassumunar Roxb. Inhibitits hyaluronan production in human oral fibroblast. Chiang Mai Med. 47 (21) : 185.
Dalimartha S. 2009. Atlas Tumbuhan Indonesia Jilid 6. Jakarta (ID) : Pustaka Bunda.
Guyton AC. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 9. Jakarta (ID) : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Mursito B. 2007. Ramuan Tradisional untuk Pelangsing Tubuh. Jakarta (ID) : Penebar Swadaya.
Padmasari PD. Astuti KW, Warditiani NK. 2013. Skrining fitokimia ekstrak etanol 70% rimpang bangle (Zingiber purpureum Roxb. Jurnal Farmasi Udayana. 1 – 6.
Rahardjo M, Rosita SMD, Sudiarto, Kosasih. 2004. Peranan populasi tanaman terhadap produktivitas bangle (Zingiber purpureum Roxb.). Jurnal Bahan Alam Indonesia. 3 (1) : 165 – 170.
Tim TPC (Tim Tropical Plant Curriculum). 2012. Modul Tanaman Obat Herba Berakar Rimpang. Bogor (ID) : SEAFAST Center IPB.


Comments are closed.

Vitamin A merupakan salah satu zat gizi mikro yang penting bagi ibu nifas. Untuk mencegah dan menanggulangi masalah kurang vitamin A pada bayi dan ibu nifas, pemerintah melaksanakan program pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200 000 SI) . Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan vitamin A dengan produksi ASI dan status kesehatan […]

Previous Entry

Indonesia merupakan Negara dengan iklim tropis yang memiliki keanekaragaman hayati. Indonesia memiliki hampir 3000 spesies tanaman yang tersebar di seluruh pulau-pulau Indonesia. Sekitar 9600 spesies tanaman memiliki khasiat sebagai obat, sekitar 7000 spesies yang dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupun industri dan yang didaftarkan ke BPOM RI hanya 283 tanaman (Eisai Indonesia 1986, […]

Next Entry

Komentar Terakhir
Kategori